Mengapa Harus Aku

Ku berjalan menyusuri malam.
Terduduk aku di rerumputan sbuah taman.
Ku tatap rembulan untuk bertanya satu tanyaku yang belum terjawab

Bulan mengapa kau diam tak menjawab tanyaku yang tengah dirundung pilu.
Kala itu hujan berderai
Hingga kini ku kembali bertanya padamu.

Mengapa bulan..???
Mengapa harus aku yang tlah menyakiti sekeping hati.
Menghancurkan bunga-bunga cinta seseorang yang begitu mencintaiku.

Mengapa bulan???
Kau hanya terdiam.
Aku tahu jodoh ada di tanganNya.
Tapi mengapa harus aku yang menyakiti hatinya.
Walau mungkin memang aku bukan jodohnya.

Ku terus bertanya namun engkau tetap terdiam.
Ku tanyakan pada karang di lautan namun mereka juga diam.
Hanya memandangi bintang-bintang yang bersinar keredupan.

Aku terus berjalan di lorong malam hingga ke fajar.
Mungkin kan ku temui untukku satu bintang pagi yang begitu terang.
Untukku menuai harapan.

Inikah Cinta.?


Malam ini tak dapat aku terlelap
Angan dan hayalku selalu tertuju padamu.
Entah apa aku pun tidak tau.

Tanpa bertemu aku dapat mencinta

Hembusan Angin


Hembusan angin menyentuh tubuhku
Menyentakkan pikiran dan membangunkan hati yang sedang tertidur
Ku merasa ada sesuatu yang berbeda

Malam Sunyi


Di malam yang kian hening
Di tengah dingin yang menusuk kulit
Membuat hati tak bisa bergeming
Menghadapi cobaan yang kian membelit

Rasa Cinta Terlarang

Ya Allah tolong aku
Hapuskanlah rasa cinta ini
Bunuhlah rasa rindu ini
Yang tak lagi menjadi indah ditiap waktunya
Harapan dan mimpi yang tak mungkin
Akan menjadi nyata untuk selamanya

Halimun Jiwa

Aku lah kabut bagimu,,
yang terkadang menutup keindahan warna hijauku,,
menyelubung beranda huma pada pesona anggun bebukititan..
Menebar tanya.

Ku Cari Damainya Hati Di Ujung Senja

Siang tadi mentari sangar memanggang..
Panasnya meranggas ke belukar jiwa.menyusup ke pori-pori hati.
Kini datang senja.
Warnanya temaram sedikit ke abu-

Ocehan Pagi

Bingkai pagi mengharum aroma kesejukan.
angin pegunungan membelai warna hijau.
Begitu penuh kedamaian hingga jiwaku terbuai ntuk mengucap pujian..
Tetes-tetes embun pagi bergelantungan di daun padi.
Bagai mutiara kecil memainkan warna pelangi.

Mimpi Patah

Luka tergores sudah,kekasihku
Aku merenung...
Mungkinkah ada salah caraku mencintaimu?
Atau jalan cinta yang ku bentang terlalu sulit kau lewati?
Kugenggam keping demi keping hatiku
Tak ku sangka..kau pula yang hancurkan pada akhirnya,
**********

Kesunyian Pagi

Aroma malam membingkai di wajah pagi.
Kaki-kaki hujan menjejak di tetesan embun dan daun.
Burungpun enggan bernyanyi.
Disini.

Elegi Egoisme

Senja datang sambut sang bulan.
Mengiringi langkahku yang tak tentu arah.
Dalam kesunyian malam ini.
Kuberjalan layangkan khayal tuk

Bait Terakhir

Pena ku..
Smakin tiada bertinta lagi untuk menuis aksara diri di pentas kehidupan dunia.
Daunku smakin pudar kemilau cahyanya.
Ku tatapi batangku yang smakin rapu

Yang Menanti Di Gerbang Pagi

Aku berlari diantara gulita.
Ketika angin menyapaku dingin.
Mengejar cahaya benderang
Yang datang setelah fajar.
Menggema adzan di menara surau.
Aku pun bangkit dari pembarin

Senja Menepi


CINTA,,.....
Sapamu membawaku larut dalam angan
Hayalkan mimpi yang tiada kepastian

Di dalam jiwaku hadirkan kehampaan
Entah apa yang ku ingi

Janji Setia Kita


Duhai adindaku tersayang
CINTA di palung jiwa ku tak kan pernah hilang
Layaknya angka & huruf huruf yang tiada terbilang
Sepanjang masa hanya dikau yang kusayang

Sejuknya Angin Di Pagi Hari


Semilir sejuknya angin di pagi hari
Berhembus halus menanti fajar menepi
Mengingatkan kenangan masa silam
Kala senandung CINTA kasihnya tersulam

Bibir Ini Terbungkam


Bibir ini terbungkam
Dan terdiam
Relung hati serasa kelam
Duka lara kembali bersemayam
CINTA & RINDU tlah terpendam

Seraut Wajah Sang Kekasih

Seraut wajah KEKASIH Tersenyum di beranda
Menatap sendu bias jingga di altar senja
Mengulum rindu sebelum matahari berlalu
Pelangi melambai tersipu malu

Meninggalkan kisah di ufuk barat
Mengerling manja pada hampar

Seberkas Cahaya Dimatamu

Duhai kasih rapikan dahulu dandananmu
Nanti kau akan ku bawa kepada bundaku
Meskipun yang pergi hanya bayangan semu

Mengemas Cinta

Mengemas CINTA
Lalu ku menelusuri lara
Butiran butiran pasir kenangan
Diantara peraduan
Berbuih di tepian hati mu

Menjauhlah Cinta

Ingin rasanya ku menjauh pergi
Hancurkan rasa yang menepi
Patahkan ranting ranting di hati
Padamkan cahaya dalam sanubari

Bukannya Ku Mengeluh

aku bukannya mengeluh
ketika ku tuturkan kepahitan cinta ku
karena orang yang mengeluh adalah orang yang meragukan kehidupan
aku yakin di dalm kepahitan kehidupan ini
bercampur cairan obat yang menyembuhkan
akan aku teguk semua dari cawan kepahitan

Guratan Akhir

Waktu terus bergulir
Secarik kertas menjadi saksi kisah akhik ku,
Selamat tinggal kasih,
Mungkin sulit aku tinggalkan,
Namun.....
Sakit sakit bila aku tetap bertahan,
Lupakan aku yang pernah meneteskan air mata karna rindu padamu....
Meski separuh hati ini membutuhkanmu,

Penyesalan Sekuntum Duri

Di ujung malam.
Ku hanya mampu tengadah.
Di atas hamparan sajadah.
Memohon ampunan bersama
Airmata
Ku sadar.
Aku hanya ranting pedih.
Tubuhku penuh shilaf dan duri.

Coretanku

Aku..
Lelaki yang berpuluh tahun menjejakan kaki di arcapada.
Dari sosok merah dalam gendongan
Bocah ingusan,belia ,remaja dan kini mengusung renta.
Bermacam rasa tlah ke kecap.
Suka,bahagia,sedih dan duka.
Kini aku hanya sebatang luka.
Yang teronggok di ujung senja.

Mutiara Cinta

Memancar kemilau di palung lautan duka.
Merantai sabar terkurung di cangkang lara.
Meski pilu tak pernah berurai airmata..
Cahaya indah penuh pesona.

Warna-warni Cinta

Duhai pemilik warna warna cinta...
Kuatkanlah sayap sayapku dari desiran angin yang berdendang riang
dan menghempas dalam bentangan
Terbangkanlah jua kisi kisi hatiku
yang kini terjerat di antara rerimbunan rindu
Aku ingin bersimpuh bersamanya
memeluk kasih indahnya pada serambi tahtanya yang damai

Elegi Malam Sunyi

Permadani gulita menghampar kelam.
Terduduk aku di sudut kesunyian.
Rasaku tlah mati untuk dirimu
Yang tlah menulis aksara nyeri dihati.
Lengkung senyum bulan sabit. Tampak kecut menatap bintang gumintang
Tampaknya iri hati
Saksikan kebersama'an

Ikhlas

Ku tersungkur di antara malam dan fajar merenungi perjalanan hidup di samudra kehidupan.
Di kala gelombang menghampar buih-buih airmata.

Selimut malam

Malam slimuti dunia.
Desir angin membelai sukma.
Terpaku diam dlm dilema.
Trbersit sesal tiada lg berguna.
Usia tak lg muda.

Ingin ku lebih kuat


selalu aku duduk sendirian
mula ku memikirkan
berfikir dan terus berfikir
adakalanya bersama secebis harapan
adakalanya bersama sekelompok kekuatan
adakalanya bersama titisan air mata penyesalan
adakalanya bersama senyum kebahagian
adakalanya ditemani kedukaan yang menggunung

aku duduk diam, diam dan selalu diam
aku hilang kata-kata tanpa punca
aku bisu seribu bahasa
aku kaku di pertapaanku

kepada mereka
aku selalu berkata ingin menjadi kuat
aku selalu berharap aku akan terus kuat
aku pernah berasa bahwa aku ini telah kuat
aku kuat untuk melawan kesakitan ini
aku kuat melawan arus ini
aku kuat bertarung hingga ke akhirnya
tapi aku ini juga seringkali tersilap

Disaat Aku Tiada

Kasih...
Ketika ku kan tiada
Menyandang bulu dan sayap laksana malaikat
Dan kan segera ku akhiri cerita

Saat Sisa nafasku berhenti diatas waktu
Bila tiba saat ku pergi
Jangan ada derai air mata kedukaan
Karna ratapmu akan patahkkan sayapku

Kepergianku menempuh puncak impian
Ketika sang utusan merengku jiwa ini
hapuslah air matamu
Meski terus kau percikkan duka atas kepergianku,
Aku tak akan pernah kembali, dan sungguh tak ingin kembali

Hening

Merajut bayangmu hingga sampai pada batas nyata
Membuat larutan hatiku kian memancarkan resah
Mungkinkah bisa kita lewati hari hanya berdua?
Sementara gambaran pasti menghanyutkanmu.

Dan dikeheningan malam ini
Tepian wajahmu mulai mengguratkan senyumku
Begitu tenang kau jaga hati dan fikiranku
Begitu sejuk kau sumpahi kesalahanku.

Bibir Ini Terbungkam

Bibir ini terbungkam 
Dan terdiam
Relung hati serasa kelam
Duka lara kembali bersemayam
CINTA & RINDU tlah terpendam

Meniti malam
Yang tertatap hanya awan hitam
Jejak kasih tak lagi tersulam
Naungan di jiwa serasa padam
Nurani pun semakin tenggelam

Luka Hati Ku Genggam Sendiri

Indahnya tirai senja telah merayap
Dengan perlahan ke dalam dinding hati
Indahnya sejarah silam tat kala
Ter urai kembali di sela waktu

Terlena hati dalam buaian kidung rindu
Gelora rasa serasa merajai
seluruh isi kalbu
Meskipun diri ini tak tahu art semua ini
Secawan cinta kini telah mebuatku
Mabuk kepaya di dalam gurauanmu